//Mentri Perhubungan Inginkan Eskul Yang Jadi Pemicu Kekerasan di STIP di Hentikan !

Mentri Perhubungan Inginkan Eskul Yang Jadi Pemicu Kekerasan di STIP di Hentikan !

Eskul, atau ekstrakulikuler merupakan kegiatan di luar pelajaran sekolah dan di adakan sebagai sarana pembelajaran lainnya bagi siswa. Namun, karena eskul ini kebanyakan di kelola oleh siswa dari sekolah itu sendiri, dan seringnya guru pembina pun tidak bisa mengawasi terus apa yang terjadi dalam kegiatan siswa di eskul tersebut.

Di lansir oleh Humas Kemenhub dari dephub.go.id, Mentri Perhubungan saat ini bapak Budi Karya sangat konsen dengan apa yang terjadi di STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) dimana ada siswanya yang tewas karena di aniaya oleh seniornya. Dua kegiatan Eskul yang biasa dilakukan oleh para taruna yaitu, kegiatan drumben dan pedang pora  merupakan kegiatan yang menjadi pemicu kekerasan yang terjadi beberapa waktu lalu di STIP sebagaimana hasil dari investigasi dari tim Kemenhub.

“Kami akan menghentikan seluruh kegiatan pelatihan drumben di STIP, sampai iklimnya kondusif. Karena itulah kondisi yang dijadikan sebagai alasan terjadinya kekerasan dalam kampus. Tidak hanya drum band, tapi juga latihan pedang pora,” jelas Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi usai memberikan pengarahan kepada para pengelola sekolah, dosen dan Taruna di seluruh sekolah Perhubungan yang ada di Jabodetabek, Jumat (13/1).

Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh tim internal Kemenhub, diketahui bahwa kejadian pemukulan yang dilakukan oleh empat taruna tingkat II terhadap enam taruna tingkat I, berkaitan dengan kegiatan drum band.

“Para taruna harus rela kegiatan ini dihilangkan. Ini adalah suatu proses dimana kita mengedukasi, ada penyesalan kolektif, yang kedepannya diharapkan bisa memagari dan membentengi para taruna dari perbuatan-perbuatan tersebut,” ungkapnya.

Kedepan, Menhub mengungkapkan, akan mengganti kegiatan tersebut dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya yang dapat menumbuhkan rasa kebersamaan, kekeluargaan, dan kasih sayang antar taruna.

“Saya pernah ke sekolah Perhubungan yang ada Semarang dan Surabaya. Sebenarnya disana sikap (kekerasan) seperti itu relatif tidak ada. Apa yang dilakukan disana adalah melakukan kegiatan kesenian, kegiatan masyarakat, yang bisa memberikan pola pikir yang lain. Seperti naik gunung, atau kemah. Jadi intinya adalah, tidak membuat suatu kegiatan yang membuat mereka berkompetisi tidak sehat,” urainya.

Kekerasan dalam organisasi memang sudah tidak seharusnya masih di dewakan oleh para aktivis, dan mudah-mudahan kedepannya tidak ada lagi kejadian serupa, mengingat kejain seperti ini sudah sering terjadi, dan memang cara terbaik adalah mencabut dari akarnya, dan apa yang dilakukan kemenhub bisa di bilang merupakan hal yang sangat tepat. (MSA)

Image By dephub.go.id

loading...
Share this :
loading...