//Bagus Putra Muljadi, Dosen Muda Inggris asli Indonesia, simak kisahnya
Bagus Putra Muljadi

Bagus Putra Muljadi, Dosen Muda Inggris asli Indonesia, simak kisahnya

Sosok Bagus Putra Muljadi punya cerita lain. Bagaimna tidak ia membuktikan bahwa prestasi akademik yang biasa-biasa saja tidak menghalanginya menjadi profesor dan peneliti salah satu kampus berperingkat 100 besar dunia, Nottingham University, United Kingdom.

Namanya Bagus Putra Muljadi. Usianya baru 35 tahun, kelahiran Jakarta, 1 Maret 1983 . Awalnya, prestasi Bagus di Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB) tergolong biasa. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) saat lulus sarjana di ITB rata-rata yakni 2,69 dalam program Strata 1, jurusan Teknik Mesinnya di tahun 2006. Tapi dia membuktikan bahwa kemauan dan kerja keras, membawa hasil. Kini Bagus merupakan satu-satunya dosen termuda di Universitas Nottingham, Inggris yang menjabat sebagai asisten profesor di jurusan Chemical and Environmental Engineering di University of Nottingham

“Saya merupakan salah satu asisten profesor termuda di departmen saya di Nottingham,” ujar Bagus saat ditemui pada acara rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) di Bandung, Sabtu (5/5).

Bagus menceritakan awal mendapatkan posisi dosen di Universitas Nottingham. Dia ditanya apakah sudah mandiri secara akademis, memiliki portofolio penelitian yang beragam dan penelitian yang juga beragam. Beruntung, Bagus tidak saja meraih gelar doktornya pada bidang mekanika terapan, tapi juga post doktoral pada program studi matematika.

“Nonlinear justru membantu saya untuk mendapatkan posisi-posisi permanen, apalagi di Inggris karena hal itu jadi unik. Menurut saya ilmu pengetahuan pada dasarnya tidak disekat-sekat. Justru itulah yang saya jawab waktu ditanyakan pada saat wawancara, karena jurnal yang saya memiliki cenderung dibidang matematika bahkan ada dibidang ilmu bumi,” papar pria dengan dua anak itu.

Sebagai ilmuwan, Bagus memberi saran agar ilmuwan berpikir terbuka dan hindari sekat-sekat ilmu pengetahuan. “Semua proyek pada masa depan, seperti ketahanan pangan maupun energi, tidak bisa diselesaikan jika masih ada sekat-sekat (ilmu pengetahuan) yang kaku seperti sekarang. Dosen `zaman now` harus terbiasa dengan konsep kolaborasi interdisiplin, itu yang penting,” saran Bagus.

Bagus saat ini memiliki 10 jurnal internasional dan lebih dari 20 jurnal bersama. Jumlah jurnal, menurutnya, bukanlah hal yang istimewa. Banyaknya jurnal dalam dunia akademis, kata dia, itu baik tapi jika ingin melaju ke posisi yang lebih tinggi, sebaiknya memiliki jurnal yang ditulis sendiri.

“Jurnal saya cuma 10, itu bukan hal yang luar biasa. Tapi saya mempunyai satu jurnal yang saya saya tulis sendiri, yakni tentang pemodelan multiskala media berpori, untuk melihat aliran cairan berpori,” jelas Bagus.

Bagus mengambil kuliah S2 dan S3 di National Taiwan University (NTU) dengan jurusan Mekanika Terapan.

Setelah mendapatkan gelar doktor di tahun 2012, Bagus bertolak ke Perancis untuk melanjutkan studi post doctoral bidang matematika di Institut de Mathmatiques de Toulouse. Selanjutnya, Bagus menjadi asisten peneliti di Imperial College London. Saat ini, Bagus menjadi asisten profesor sekaligus dosen termuda di departemen Kimia dan Teknik Lingkungan Nottingham University.

loading...
Share this :
loading...
[NUMBER OF ADS IN RESPONSE] <![CDATA[ad title]]> bid in $US