//7 Fakta Unik Grandprix Thomryes, Doktor Termuda Indonesia

7 Fakta Unik Grandprix Thomryes, Doktor Termuda Indonesia

Oktovianus Kadja (53) dan Yane Kadja (53) beserta dua adik Grandprix Thomryes Marth Kadja duduk di barisan kedua tepat di belakang penguji saat menyaksikan putra pertamanya memaparkan hasil disertasinya. Rasa tegang kembali hinggap sewaktu Grandprix dicecar puluhan pertanyaan oleh para penguji. Namun, Grandprix dapat menjawab seluruh pertanyaan penguji dengan lugas. Rasa lega tercipta setelah penguji memberikan nilai sangat memuaskan. Usai dinyatakan lulus, raut wajah sumringah terpancar dari wajah Gepe.

“Ya rasanya bangga dan terharu. Saya bisa menyelesaikan lebih cepat sekitar 2-3 tahun dari yang normal,” kata Grandprix yang mengenakan jas hitam dipadukan kemeja warna abu saat siding

“Sebagai orangtua kami bangga dia anak yang baik saya bangga,” kata Okto yang sempat menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Kupang.

Berikut adalah beberapa fakta unik mengenai Dokter Termuda Indonesia:

DOKTOR TEMUDA DI INDONESIA

Grandprix Thomryes Marth Kadja resmi menyandang predikat doktor termuda di Indonesia. Gelar doktor diraihnya pada usia 24 tahun. Gelar doktor yang ia raih tersebut begitu spesial karena berhasil memecahkan rekor MURI di dunia pendidikan sebagai doktor termuda.

Pemuda asal Kupang, Nusa Tenggara Timur 31 Maret 1993 itu dinyatakan lulus dengan nilai cumlaude setelah berhasil menjalani sidang disertasi tertutup pada 6 September 2017 di ITB dan mempertahankan disertasinya pada Sidang Terbuka Sekolah Pasca Sarjana FMIPA di Gedung Annex, CCR, Rektorat Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Tamansari Jumat (22/9/2017) siang.

Disertasinya mengangkat topik tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5. Katalis merupakan zat yang mempercepat reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan.

Ia menjelaskan zeolit itu bisa dimanfaatkan di industri petrokimia untuk minyak mentah jadi bahan bakar. Atau bisa juga digunakan sebagai biogasolin dari produksi minyak sawit dan limbah plastik menjadi bahan bakar.

“Alasannya mengambil Katalis karena sejak S1 saya sudah konsen di sini, jadi lebih mendalami. Apalagi untuk Katalis khususnya zeolit di Indonesia belum berkembang. Industri di Indonesia saja masih impor dari luar negeri,” ungkap dia.

SUKA SINCHAN

Di balik keahliannya di bidang kimia, siapa sangka pemuda yang akrab disapa Gepe itu ternyata menggemari tokoh kartun asal Jepang, Sinchan.

“Suka Sinchan dari kecil karena lucu kocak, hiburannya kalo anak 90-an tiap minggu nonton kartun. Main sama teman-teman juga, nonton atau main bola,” ucap Gepe.

Di sela kesibukannya menimba ilmu, Gepe pun selalu menghibur diri dengan membaca komik atau menonton film Sinchan.

“Saat kecil bacaan favorit saya Komik Shincan. Saya punya koleksinya lengkap. Bahkan di komputer kerja saya ada tempelan stiker Shincan,” tuturnya

Gepe mengatakan, proses belajar dan menimba ilmu dia jalankan secara seimbang. Proses belajar, kata Gepe, hanya dilakukan di kampus. Sementara di rumah ia berupaya untuk rileks dan bersosialisasi dengan keluarga serta teman-temannya.

“Kalau saya sih selama di kampus ngerjain kerjaan kampus. Ketika di rumah ya (tinggalin urusan kampus). Di rumah main santai saja, kalau di kampus benar-benar serius,” ungkapnya.

“Jadi tipsnya work hard play hard. Walaupun kita seserius apapun (belajar) tentu ada keluarga juga. Bersosial itu butuh. Jadi kalau misalkan saya boleh ngasih saran, serius dengan apa yang kita kerjakan, tapi jangan lupa juga kita makhluk sosial, jadi harus berimbang,”  tambah dia.

MEMPUBLIKASIKAN 7 LEBIH ILMIAH SKALA INTERNASIONAL

Masih berusia 24 tahun, penerima beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) Kemristekdikti itu telah menghasilkan tujuh lebih publikasi ilmiah yang delapan di antaranya berskala internasional.

“Target yang diberikan program PMDSU itu lulus empat tahun dengan dua publikasi internasional. Tapi saya bisa melampaui target itu dengan tujuh publikasi internasional,” kata Grandprix.

Selama menyelesaikan program PMDSU, Grandprix mendapat bimbingan dari Dr. Rino Mukti, Dr. Veinardi Suendo, Prof. Ismunandar, dan Dr. I Nyoman Marsih sebagai promotornya.

“Baca jurnal bagi saya itu wajib. Apalagi di ITB, akses dapetin jurnalnya juga mudah. Sayangnya, kebanyakan dari kita manfaatinnya cuma buat diunduh saja. Unduhnya 100 jurnal, bacanya hanya dua jurnal,” sebutnya.

Meski sudah menerbitkan tujuh lebih publikasi layaknya lektor atau profesor, lulusan S-1 Universitas Indonesia (UI) itu mengaku mendapat berbagai kendala selama menyusun karya ilmiah tersebut. Bahkan, tak jarang Grandprix mendapat komentar atau kritik keras dari para reviewer hingga menerimareject dari suatu jurnal.

“Kalau sudah di-reject, stresnya bukan main. Pergi ke laboratorium saja malas. Untungnya ada pembimbing yang selalu memberi saya motivasi untuk mulai terbiasa menerima penolakan dan mencari tahu di mana letak kekurangan dari tulisan saya,” ujarnya.

Bagi Grandprix sendiri, publikasi internasional merupakan sesuatu yang penting. Sebab dengan cara inilah, dia mampu mendarmakan bekal atau ilmu yang selama ini didapat agar berguna untuk banyak orang.

“Namun pengetahuan baru ini sendiri harus berkelas internasional sehingga benar-benar teruji. Dengan begitu, karena kita menghasilkan pengetahuan yang baru, akan mengubah posisi kita, yakni dari pengguna menjadi pencipta,” tukasnya.

HIDUP DISIPLIN

Prestasi yang ditorehkan Grandprix berasal dari pola asuh keluarga yang menerapkan hidup disiplin. Okto mengatakan, sejak kecil Grandprix memang sudah dituntut hidup mandiri dan dibiasakan untuk selalu disiplin.

“Awalnya, ya biasa saja dia saya didik dengan disiplin dari kecil, dari kecil sudah kelihatan dia orangnya nurut sama orang tua,” ucap Okto.

“Memang saya kira berawal dari pola hidup disiplin setiap anak harus dididik disiplin. Sejak kecil Grandprix mandiri, masak sendiri, siapin sekolah sendiri, tidak pernah terlambat. Saya tidak pernah kasih dia uang lebih untuk makan di sekolah, makan di rumah saja,” tambahnya

Okto bercerita, saat sekolah pun Grandprix dibiasakan untuk naik kendaraan umum. “Jarak ke sekolahnya sekitar 17 kilometer naik kendaraan umum, saya tidak kasih dia kendaraan (pribadi) walaupun ada. Meski dia anak lelaki sendiri,” ujar dia.

JENJANG AKADEMIK

Yane menuturkan, kecerdasan yang dimiliki Grandprix sudah tampak sejak mengenyam bangku sekolah dasar. Grandprix sudah masuk SD di usia lima tahun. Dia melanjutkan pendidikan SMP dan kelas akselerasi di SMA.

Di masa itu lah, ketertarikan Grandprix pada dunia Kimia mulai terlihat. Dia pun beberapa kali menyabet medali olimpiade sains. Grandprix yang kala itu masih berusia 16 tahun melanjutkan studinya mengambil jurusan Kimia di Universitas Indonesia (UI). Dia lulus menjadi sarjana di usia 19 tahun dan mendapat predikat cumlaude.

“Waktu di SMA dia akselerasi. Dia diundang oleh Universitas Indonesia (UI) karena waktu itu dia juara olimpiade sains untuk Indonesia Timur. Saat itu, UI meminta untuk mengambil salah satu fakultas jurusan. Papanya mau kedokteran apalagi masuknya bebas biaya, tapi dia enggak mau. Dia maunya kimia, kita ikut saja,” tuturnya.

Setelah lulus di UI, Grandprix sempat ditawari melanjutkan kuliah di Korea Selatan. Namun Grandprix menolak. Alih-alih terpikat bersekolah di luar negeri, Grandprix memilih mengambil program beasiswa Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang digulirkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) di tahun 2013.

Program ini memungkinkan sarjana unggulan bisa menyelesaikan program S2 dan S3 dalam kurun waktu empat tahun.

Selama studi S3 di ITB, waktu yang ada digunakan untuk melakukan penelitian secara penuh menyelesaikan disertasinya.

“Dia menolak ke luar negeri karena tidak mau dimanjakan fasilitas. Dia memilih sekolah di ITB agar merasakan jerih payahnya,” kata wanita yang punya gelar insinyur peternakan itu.

Sebagai mahasiswa yang tengah merampungkan studi doktor, Grandprix selalu datang ke laboratorium kimia untuk mengerjakan penelitian, dimulai pada pukul 08.00 dan pulang seminimalnya pukul 16.00. Dia bertekad untuk tidak tergantung pada laboratorium di luar negeri dalam menghasilkan suatu penelitian berkelas internasional.

ASAL NAMA GRANDPRIX

Selain prestasinya, nama Grandprix yang unik pun menjadi perhatian. Okto, sang ayah bercerita mengenai asal-usul mengapa anaknya diberi nama Grandprix. Menurut dia, nama Grandprix diambil dari kompetisi balap jet darat, Grandprix Formula 1.

“Nama itu memang keinginan dari saya supaya dia seperti Grandprix Formula 1. Dia harus cepat dan kekuatannya kan di ban, dia harus menerima beban keluarga,” ucap Okto.

Sementara Thomryes Marth Kadja merupakan penggalan nama dari kakek nenek serta orangtuanya. “Walaupun orang bilang apa arti sebuah nama tapi nama itu saya kasih tujuannya untuk itu,” katanya.

HARAPAN UNTUK INDONESIA

Grandprix berharap akademisi Indonesia dapat ikut terdorong untuk memajukan dunia penelitian yang dimotori oleh orang-orang muda Indonesia.

“Jangan minder karena masih muda. Justru (yang muda) yang harus menjadi contoh bagi orang lain,” ujarnya.

Selain itu, beliau juga ingin agar program-program beasiswa seperti PMDSU dapat diteruskan eksistensinya dan diperbesar skalanya untuk menjaring peneliti dan doktor Indonesia dengan kemampuan dan daya saing kualitas internasional.

loading...
Share this :
loading...