//Hujan Guyur 1 Rumah, ini Penjelasan Para Ahli

Hujan Guyur 1 Rumah, ini Penjelasan Para Ahli

Fenomena unik sempat sebelumnya diberitakan, terjadi hujan misterius yang hanya mengguyur satu rumah milik Muzakir di Tebet, Jakarta Selatan pada Sabtu (26/8). Hujan mengguyur rumah tersebut selama 6 jam dari menjelang magrib hingga hampir tengah malam. Peristiwa itu menjadi perbincangan warga sekitar, bahkan ada pula yang mandi karena ingin merasakan air hujan tersebut.

“Orang-orang lalu pada datang, foto-foto dan ada juga mandi memang pengen ngerasain,” ujar saksi bernama Diaz, Senin (28/8)

Dalam video yang diunggah akun Twitter @febicil pada Sabtu (26/8/2017), hujan hanya mengguyur satu rumah, sedangkan rumah lain tampak kering. “Ada hujan yang turun di satu rumah doang di Tebet, kiri kanan-nya kering!,” kicau akun @febicil.

Camat Tebet Mahludin mengatakan belum mengetahui secara pasti kabar di balik kejadian tersebut. “Saya belum monitor lagi. Baru dengar kabarnya saja tapi belum cek kembali,” kata Mahludin

Untuk mengulasnya mari kita simak pendapat dari para ahli:

  1. Tri Wahyu Hadi, Dosen Meteorologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB

Hujan yang hanya mengguyur 1 rumah di Tebet, Jakarta Selatan, masih menyisakan misteri. Pakar meteorologi dari ITB, Tri Wahyu Hadi, menyebut fenomena itu sulit dijelaskan dan cenderung tidak mungkin terjadi.

“Biasanya kalau hujan lokal sekali, kalau durasinya pendek itu mungkin saja. Kalau 6 jam, itu agak sulit dijelaskan dari sisi meteorologi,” kata Tri Wahyu, Selasa (29/8/2017).

“Itu hampir tidak mungkin dari sisi meteorologi,” ucap dosen meteorologi dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) ITB ini.

Tri menjelaskan sebenarnya ada fenomena virga, hujan dalam durasi singkat yang sudah lebih dahulu menguap sebelum menyentuh tanah. “Itu karena tetes hujannya tidak banyak dan misalkan ada aliran udara yang naik,” jelasnya.

Namun Tri meyakini hujan eksklusif di Tebet bukanlah virga karena durasinya yang mencapai 6 jam. Seharusnya ada pengukuran yang lebih akurat untuk mendapatkan data curah hujan di lokasi tersebut.

“Kalau 6 jam terus-terusan, bisa banjir. Kalau warga tidak lihat ada aliran air ke selokan ke sekelilingnya, ya agak aneh,” ungkap Tri.

  1. Thomas Djamaluddin, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Kepala Lembaga Penerbagan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin menganggap peristiwa itu seperti semprotan air.

“Tidak mungkin. Karena awan itu di atas 2 kilometer. Tidak mungkin semprotannya itu mengarah atau hujan itu mengarah seperti semprotan pemadam kebakaran,” katanya, Selasa (29/8/2017) malam.

Menurut Thomas, tidak ada hujan lokal yang mengarah hanya ke satu rumah saja. Menurutnya, kejadian itu adalah rekayasa.

“Tidak mungkin hujan itu mengarah pada satu rumah saja. Mungkin ya seperti semprotan air. Rekayasa,” katanya.

Thomas menjelaskan, terjadinya hujan berasal dari hasil kondensasi uap air yang naik ke atas, lalu terkondensasi oleh debu atau butir-butir garam. Kemudian berkondensasi atau mengembun oleh suhu yang dingin di atas awan.

“Nah itu membentuk awan. Kalau itu semakin matang, artinya kandungan embunnya sudah semakin berat, maka kemudian dia jatuh menjadi hujan. Kalau udara di sekitarnya panas, titik-titik air yang hujan itu bisa habis lagi menguap, tidak sampai ke tanah,” paparnya.

Thomas menyebut saat ini Indonesia tengah memasuki musim kemarau. Sehingga tidak mungkin terjadi hujan lokal dengan luas hanya kisaran satu rumah saja. Menurutnya, air yang ditumpahkan awan tidak banyak. Bisa jadi menurut Thomas, air hujan habis tertiup angin.

“Jadi tidak mungkin ada hujan 6 jam itu mencapai hanya satu rumah atau beberapa rumah. Apalagi sekarang sedang musim kemarau,” tegasnya.

Hujan lokal nenurut Thomas luasnya bisa mencapai ratusan meter dan terjadinya tergantung pada musim. Tidak mungkin menurutnya jika hujan lokal hanya seluas rumah saja.

“Ya tergantung. Biasanya kalau lokal, itu hitungannya bisa ratusan meter. Tidak hanya katakan 10 meter itu tidak mungkin. Apalagi ini disebutnya hujannya 6 jam, itu tidak mungkin,” tuturnya.

“Hujan lokal tergantung musimnya. Tergantung besarnya awan. Bisa sekadar hanya gerimis saja, tapi gerimis pun itu biasanya ya luas juga dan karena walaupaun itu awan kecil juga bisa terbawa angin akan diturunkan di area yang cukup luas,” terangnya.

  1. Adi Ripaldi, Kasubid Analisa Informasi Iklim BMKG

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia (BMKG) menyebut hal tersebut sebagai fenomena yang langka. BMKG tidak bisa menjelaskan secara ilmiah kejadian tersebut.

“Dari ranah keilmuan meteorologi, kemungkinan itu agak sulit diterima. Bener-bener di luar teori atau dari keilmuan meteorologi kalau hujan hanya satu rumah dan durasi lama,” ujar Kasubid Analisa Informasi Iklim BMKG, Adi Ripaldi, Jakarta, Selasa (29/8/2017).

Dia juga mengungkap, ketika itu, BMKG tidak terdeteksi adanya awan di langit Jakarta yang bisa menyebabkan hujan, khususnya di kawasan rumah tersebut.

“Kalau dari BMKG, pertama kita lihat dari alat yang pakai radar gitu. Memang tidak terdeteksi ada awan di seputaran Jakarta waktu malam itu. Itu awal datangnya hujan dari mana, dari alat kita juga enggak terpantau ada awan di atas Jakarta,” kata Adi.

Kalau pun memang ada hujan lokal, ucap dia, secara logika dan keilmuan tidak hanya terjadi di satu rumah dan durasinya pun tidak terlalu lama sampai enam jam, seperti yang terjadi di rumah kawasan Tebet tersebut.

“Kalau ada hujan yang khusus untuk satu rumah itu, secara teoritis memang agak susah diterima. Kalaupun ada hujan-hujan yang kecil di daerah yang sempit, namanya rain shadow atau bayangan hujan tapi kalaupun ada bayangan hujan artinya ada hempasan hujan,” tutur Adi.

Namun, jika pun ada hempasan hujan, seharusnya ada hujan di wilayah sekitar. Misalkan, sambung dia, di Bogor. Jakarta bisa terkena hempasannya.

“Tapi hempasan itu enggak bisa terjadi lama. Paling satu dua jam. Kalau yang di berita itu hujannya lama kan tuh, enam jam. Makanya dari segi teori keilmuan dan teknologi, agak sulit dibuktikan dari mana asalnya,” kata Adi.

Terlebih, Indonesia sedang berada dalam puncak musim kemarau. Kalaupun ada hujan, tidak akan terjadi seperti di Tebet.

“Apalagi Agustus-September ini lagi puncak-puncaknya musim kemarau di Jakarta atau Jawa ya. Jadi kalaupun ada hujan ya hujan singkat paling sekitar 5-10 menit. Memang deras dan sempit waktunya,” ucap Adi.

  1. Halimurrahman, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer

Kepala Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA) LAPAN, Halimurrahman, mengatakan, luas area yang diguyur hujan bergantung pada kandungan air di suatu wilayah. Hujan sebagai fenomena alam juga dipengaruhi oleh beberapa parameter, antara lain proses konveksi dan angin.

Halimurrahman menuturkan, hujan lokal bisa terjadi dalam luas area sekitar 500 meter. Namun, ukuran tersebut juga sangat relatif. “Sangat dinamis, rata-rata bisa hujan rintik dan bisa juga hujan deras. Sangat tergantung pada kondisi lingkungan yang memungkinkan di daerah itu,” kata Halimurrahman, Senin (28/8/2017).

Dengan penjelasan seperti itu, turunnya hujan di satu rumah menjadi mungkin terjadi.

Mari kita simak fakta berikutnya. Muzakir, pemilik rumah yang kedatangan hujan, mengaku peristiwa itu berlangsung selama enam jam.

Halimurrahman mengatakan, jika dilihat dari rentang waktunya, hujan yang terjadi diakibatkan oleh awan Kumulonimbus (Cb). Awan Kumulonimbus punya ukuran yang cukup besar. “Awan besar biasanya tidak mungkin satu lokasi sebesar rumah. Kalau hujan skala kecil ya singkat biasanya. Sulit untuk diperoleh faktanya ya secara ilmiah,” ujar Halimurahman.

  1. Mulyadi Rabadi Prabowo, Deputi Klimatologi BMKG

Mari sekali lagi melihat fakta dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Deputi Klimatologi BMKG, Mulyadi Rahadi Prabowo, sebelumnya pernah berkata bahwa Indonesia masih mengalami musim kemarau yang baru diperkirakan berakhir pada September mendatang.

Berdasarkan data monitoring BMKG pada 20 Agustus lalu terhadap hari tanpa hujan berturut-turut, mayoritas Pulau Jawa berada dalam klasifikasi panjang. Artinya, sekitar 21-30 hari tidak mendapatkan hujan berturut-turut.

“Saya mendukung itu (penjelasan BMKG). Jadi kalau 10 menit sangat mungkin ada sekumpulan awan kecil kemudian terjadi kondensasi, pengembunan, hujan,” ucap Halimurrahman.

  1. Hary Tirto, kepala Humas BMKG

Hary mengakui jika hujan lokal jarang terjadi pada malam hari dan turun di satu area saja. Namun, dia meminta masyarakat agar tak mengaitkan fenomena alam itu dengan klenik. BMKG menyebut peristiwa tersebut terjadi karena fenomena alam.

“Kalaupun itu terjadi lebih banyak di musim transisi atau di kemarau dan antara siang dan menjelang malam. Jadi jangan dikaitkan dengan klenik dulu,” pesan Hary

“Jadi kalau kejadian hujan yang sangat-sangat lokal, itu fenomena alamiah. Alamiahnya dengan catatan syarat ketentuan berlaku,” kata Kepala Humas BMKG Hary Tirto saat dihubungi, Senin (28/8/2017) malam.

Hary menyebut syarat terpenuhinya hujan lokal dipengaruhi terpenuhinya parameter cuaca. Seperti suhu, penguapan, kelembapan, kondisi awan dan arah dan kecepatan angin.

Meskipun ada teori ilmiahnya, kenyataannya, hujan lokal sulit terjadi hanya di satu rumah. Apalagi di musim kemarau seperti saat ini.

  1. Mulyono Prabowo, Kepala Pusat Informasi Meteorologi Publik BMKG

Hal senada juga disampaikan Kepala Pusat Informasi Meteorologi Publik BMKG Mulyono Prabowo. Mulyono mengatakan, dilihat dari skala ruang dan waktu, hujan yang mengguyur satu rumah di Tebet sulit terjadi. Apalagi melihat dimensi rumah yang hanya berukuran 5×5 meter.

Selain itu, Mulyono menambahkan, untuk hujan setempat atau lokal saja cakupan wilayahnya terjadi cukup besar. Dia menambahkan ketinggian awan pada musim kemarau menjadikan hujan seperti di Tebet sangat sulit terjadi. Ketinggian awan saat musim kemarau yakni sekitar 700 meter hingga 1 kilometer.

“Ambil antara 500-700 meter di atas permukaan. Kemudian kalau itu jatuh hanya pas satu rumah dan itu pada jangka waktu yang lama 6 jam, itu banyak channel dari awan turun ke rumah itu. Pada kondisi musim kemarau potensi hujan lokal seperti ini mudah sekali terganggu karena ada angin jadi mudah bergeser,” terangnya.

  1. Agie Wandala Putra, Kepala Subbidang Prediksi Cuaca BMKG

Kepala Subbidang Prediksi Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Agie Wandala Putra mengatakan fenomena hujan lokal itu umum terjadi.

“Hujan lokal memang lazim di wilayah tropis, tapi dengan kasus tersebut yang areanya sempit sekali, sepertinya perlu diinvestigasi lebih lanjut tentang kebenaran curah hujan di lokasi spesifik itu,” kata Agie, Selasa, 29 Agustus 2017.

Agie mengatakan, dari analisis radar cuaca BMKG di lokasi tersebut, pada Sabtu sore, 26 Agustus 2017, pukul 18.00-23.00 WIB, tak terdeteksi adanya partikel yang diasumsikan sebagai hujan di sekitar lokasi tersebut.

Hujan berasal dari awan. Agie mengatakan, secara fisis, awan tidak memungkinkan adanya awan hujan dengan skala rumah saja. Setidaknya, kata dia, skalanya bisa mencapai 1 hingga 2 kilometer.

“Kecuali hanya, misal shading atau limpasan hujan saja, tapi juga dengan waktu yang tidak lama. Seperti syarat radius area awan kumulus untuk hujan yang mencapai 7 kilometer,” katanya.

Dari info yang beredar, hujan di Tebet itu berlangsung hampir selama enam jam. Agie meragukan adanya hujan lokal kecil yang berlangsung selama itu. “Hampir sulit ada hujan dengan durasi lama dengan skala luasan hanya sebuah rumah. Ingat, sumber hujan dari awan hujan dan awan kan selalu bergerak” katanya.

 

 

 

 

 

 

loading...
Share this :