//Dimulai dari Indramayu, Digitalisasi Pertanian Wujudkan Ketahanan Pangan

Dimulai dari Indramayu, Digitalisasi Pertanian Wujudkan Ketahanan Pangan

Berbagai hambatan dalam usaha mewujudkan ketahanan pangan khususnya beras menjadi tantangan bagi pemerintah. Cuaca yang tidak menentu, serangan hama, dan keterbatasan jenis padi unggul seringkali menjadi hambatan yang dihadapi pemerintah. Hambatan kemudian ditambah dengan sistem agraria yang masih belum terjamah dengan teknologi dan jaminan kesejahteraan petani yang dinilai masih belum mumpuni.

Dalam hal ini, Beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini tengah membantu meningkatkan percepatan mewujudkan ketahanan pangan. Salah satu yang dilakukan melalui beberapa program pendampingan dan dukungan teknologi terhadap para petani.

Dalam rangka mewujudkan hal itu, Menteri BUMN Rini Soemarno mengajak sejumlah BUMN untuk‎ memajukan para petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Menteri BUMN Rini M Soemarno mengatakan “Hari ini BUMN kembali bersinergi untuk ketahanan pangan Indonesia,” ungkap Rini.

Pemerintah Indonesia tak main-main dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan sehingga berbagai upaya untuk mencapai target itu terus dilakukan dengan tujuan agar tak terlalu bergantung produk impor Sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia yang sampai tahun 2016 lebih dari 250 juta orang dan seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, pemerintah didorong untuk terus menyediakan bahan makanan, terutama makanan pokok rakyat Indonesia, yaitu beras.

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencapai ketahanan pangan saat Menteri BUMN Rini M Soemarno secara resmi meluncuran program pengembangan sentra beras (Rice Center), digitalisasi pertanian dan budi daya beras premium di Balai Desa Mundu, Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, (10/3) yang disaksikan oleh para Direksi BUMN.

Rice Center adalah salah satu sistem pertanian terintegrasi yang menyatukan berbagai fungsi untuk memberikan kepastian ketersediaan saprodi (sarana produksi pertanian), kawalan teknologi, serta pembelian gabah dengan harga tinggi (jaminan off taker hasil). Rice Center akan dijalankan melalui sinergi BUMN dengan sejumlah perusahaan daerah di Indramayu.

Tidak berhenti Sinergi BUMN dengan Kabupaten Indramayu ini tidak akan berhenti pada saat selesainya peresmian digitalisasi pertanian ini namun peresmian pada hari ini akan terus berlanjut sehingga manfaatnya dapat terus dirasakan oleh masyakat, khususnya Petani.

Untuk program digitalisasi pertanian akan memberikan data tunggal para petani dapat dimonitor dalam “Dashboard” berbasis teknologi informasi.

Dashboard digitalisasi pertanian, katanya, akan memberikan semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan pertanian dari musim pratanam, tanam, panen, dan pascapanen, termasuk pemberian fasilitas pembiayaan, asuransi tani, penyediaan pupuk bersubsidi, bibit, dan pengolahan beras.

Mengenai program pengembangan sentra beras, ketersediaan sentra beras berkapasitas tinggi dapat membantu menjaga stabilitas pasokan gabah di musim panen dan musim nonpanen. Juga bertujuan meningkatkan infrastruktur kegiatan pertanian sehingga petani dapat menerima manfaat dari hasil pertaniannya

Sentuhan teknologi juga dipersembahkan BUMN untuk dunia pertanian di Kabupaten Indramayu. Platform informasi terintegrasi telah dibangun oleh PT. Telekomunikasi Indonesia untuk mewujudkan digitalisasi pertanian. Melalui platform ini petani dan BUMN terkait dapat mengakses data tunggal yang lengkap mulai dari masa pra tanam hingga pasca panen. Platform ini menyediakan informasi terkait profil petani, jenis lahan pertanian, kebutuhan kredit usaha, asuransi sampai mobilisasi hasil panen.

“Diharapkan ketiga program tersebut mempunyai tujuan utama untuk membantu Kabupaten Indramayu dalam memonitor pelaksanaan program-program pemerintah,” kata Rini.

Indramayu selama ini dikenal sebagai lumbung padi di Jawa Barat dan nasional yang setiap tahun produksinya mencapi 1,7 juta ton beras sementara konsumsi hanya 200 ribu ton.

Dengan kondisi seperti itu maka Indramayu setiap tahun memiliki surplus 1,5 juta ton dan didistribusikan ke sejumlah daerah lainnya yang memerlukan beras untuk masyarakatnya.

Berbeda dengan beras pada umumnya, jenis beras yang akan dibudidayakan di Kabupaten Indramayu adalah jenis beras premium dengan nilai nutrisi yang lebih tinggi. Dengan demikian produk beras premium memiliki prospek pasar yang lebih baik dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Program sinergi BUMN dengan Kabupaten Indramayu ini telah terjalin sejak awal September 2016, yang mencakup tiga program utama yaitu program digitalisasi pertanian yang melibatkan PT Telkom Indonesia Tbk, PT BRI Tbk, PT Jasindo, PT Pupuk Indonesia, PT Sang Hyang Sri, PT Pertani, dan Perum Bulog.

Selanjutnya program pengembangan sentra beras yang melibatkan PT Pupuk Indonesia, PT Permodalan Nasional Madani, PT Pertani, Perum Bulog.

Terakhir program budidaya beras premium dengan melibatkan PT Pupuk Indonesia, PT Permodalan Nasional Madani, PT Sang Hyang Sri, PT Pertani, Perum Bulog, PT Kereta Api Indonesia.

Keempat belas BUMN ini memberikan bantuan berupa peralatan pertanian, learning centre serta bantuan beasiswa dan kemitraan dengan nilai total Rp 2,4 miliar.‎

Diharapkan dengan adanya sinergi BUMN tersebut sektor pertanian akan menjadi lebih maju dan berkembang yang pada akhirnya bisa mewujudkan ketahanan pangan

loading...
Share this :