//Difabel Indonesia Meraih Mimpinya menjadi Fotografer Kelas Dunia

Difabel Indonesia Meraih Mimpinya menjadi Fotografer Kelas Dunia

Seorang fotografer difabel telah membuat orang di dunia maya kagum kepadanya. Nama Achmad Dzulifikar (25), pemuda asal Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat, menjadi perbincangan di dunia maya karena kepiawaiannya mengoperasikan kamera dan memotret para model.

Padahal, sejak lahir lajang yang akrab dipanggil Dzoel tersebut memiliki keterbatasan fisik, yaitu tidak memiliki tangan dan kaki. Namun, kekurangan pada tubuhnya tak memutuskan semangat dan harapannya menjadi fotografer handal. Bahkan tanpa kaki, ia mampu memotret di ketinggian 2.799 meter di atas permukaan laut, yaitu kawah ijen. Fotografer asal Banyuwangi ini telah membangun bisnis fotografernya hingga pesat setelah ia menekuni minatnya pada bidang tersebut beberapa tahun yang lalu..

Jika kamu melihat karya Achmad Zulkarnain, mungkin kamu tidak pernah menduga bahwa ia harus menggunakan mulutnya untuk mengambil gambar yang ia inginkan. Achmad tidak memiliki jari, tapi mempraktikkan bentuk ketangkasan unik dalam berkarya dengan menggunakan wajah, mulut dan bagian tubuh lainnya untuk mengoperasikan kamera. Begitu dia berhasil mengambil gambar yang ia inginkan, ia akan mengolahnya di laptop tanpa bantuan yang lain.

Tidak ada yang menyangka, nasib baik berpihak pada Dzoel. Dari awalnya hanya menjadi tukang foto KTP di desanya, nama Dzul semakin bersinar, dikenal banyak orang dan saat ini lelaki kelahiran Banyuwangi, 7 Oktober 1992 itu mendapat beasiswa di sekolah fotografi Darwis Triadi Jakarta.

Sabtu (7/10/2017), Dzoel yang sejak sebulan terakhir ini tinggal di Jakarta mengaku tidak menyangka mendapatkan beasiswa sekolah fotografi dari Darwis Triadi.

Dia langsung menerima tawaran beasiswa tersebut saat bertemu Darwis Triadi di Bandung pada acara lomba fotografi untuk difabel.

“Saya langsung mengiyakan saja tawaran beasiswa tapi 3 jam kemudian baru mikir saya tinggal di mana dan gimana kalau tinggal di Jakarta sendirian. Alhamdulillah sama om Darwis disediakan tempat tinggal di studionya,” ungkap Dzoel.

Kisahnya ini kemudian disorot media internasional Al Jazeera yang menceritakan kisah kehidupannya. Kecintaannya pria yang akrab disapa Dzoel ini terhadap fotografi dimulai setelah membeli sebuah kamera secara kredit, sambil bekerja di sebuah warung internet.

Saat lulus SMA, ia sempat ingin kuliah di Surabaya, tetapi justru ditolak oleh beberapa universitas karena kondisi fisiknya. Akhirnya ia kembali lagi ke desa untuk jadi tukang foto KTP lagi.

Setelah 18 bulan meminjam kamera orang, akhirnya ia memberanikan diri untuk kredit kamera DSLR. Saat pertama kali memiliki kamera sendiri, Dzoel memotret pre-wedding salah satu temannya.

Sebenarnya tak hanya saat hendak kuliah saja Dzoel dipandang sebelah mata. Sewaktu belajar di sekolah menengah atas (SMA), Dzoel pernah tidak disapa teman-teman dan beberapa gurunya karena keterbatasan fisiknya. Mereka mengatakan bahwa sekolah yang ia masuki tak sesuai untuk lulusan Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMPLB) seperti dirinya.

Yang lebih miris lagi ketika ia baru dilahirkan. Ibu kandung Dzuel hampir saja memasukkanya ke kantong kresek untuk dibuang. Untungnya, seorang tetangga melihat hal tersebut dan berhasil mencegah orangtua Dzoel.

Dia mendirikan usahanya sendiri yang bernama DZOEL, dan dengan cepat menjadi sensasi di daerahnya. Dengan gangguan fisiknya, ia harus menemukan caranya sendiri untuk menggunakan kamera.

Mulai dari mendorong kamera ke wajahnya untuk mengubah ISO, fokus dan zoom, hingga menggunakan mulutnya untuk menghidupkan dan mematikan kamera. Dia juga memanfaatkan kulit lebih di ujung tangannya untuk menekan tombol shutter.

 

“Saya memiliki cara sendiri untuk melakukan sesuatu. Saya tidak ingin orang melihat gambar saya dan memikirkan siapa saya. Saya hanya ingin mereka melihat kreativitas saya,” kata Dzoel kepada Al Jazeera.

Mata tajamnya untuk sebuah gambar membawanya ke tempat yang menakjubkan, termasuk ke puncak Gunung Ijen, yang terletak 2.800 meter di atas permukaan laut.

Hasil fotonya pun mengagumkan. Achmad juga mengelola sebuah sekolah fotografi dan mengajar fotografi. Saat ini, dia kembali ke sekolah untuk belajar gelar sarjana hukum dan juga sedikit belajar  piano.

 

“Jika Anda ingin menjadi yang terbaik, hapus pemikiran bahwa Anda cacat. Anda tidak harus sempurna untuk menjadi yang terbaik dengan apa yang Anda lakukan,” katanya memberi pelajaran yang ingin dia bagikan.

Selain itu Dzoel juga mendapatkan penghargaan dari Rekor MURI atas kerja kerasnya sebagai fotografer difabel. Ditambah lagi, ia juga mengasah keahliannnya pada fotografer kawakan Indonesia,  Darwis Triadi. Fotografer yang akrab disapa Dzoel ini mempunyai cara sendiri  dalam menggunakan kamera bahkan ia mendesain sendiri kendaraaan yang ia kendarai sehari-hari. Ia dibantu keluarga dan kawan-kawannya merakit kendaraannya itu. Mesinnya berasal dari mesin motor, kemudi dan rodanya berasal dari mobil gokart dan remnya dirakit dari rem motor.

Dzoel mengaku video yang banyak beredar di media sosial adalah liputan dari salah satu media asing sekitar 6 bulan lalu, namun baru tayang sekitar dua pekan terakhir. Padahal, pada tahun 2015 lalu, Dzoel sempat beberapa kali tampil di layar kaca.

“Sekarang makin banyak yang kenal. Banyak yang ngajak foto selfie kalau pas lagi di jalan. Sudah jadi kayak artis,” katanya sambil tertawa.

Salah satu pengalaman menarik yang dia ceritakan adalah ketika dia mendapatkan pesan di Instagram pribadinya dari akun pesohor Indonesia, yaitu Dian Sastro.

Awalnya dia tidak menyangka bahwa itu adalah akun asli artis cantik pemeran film Ada Apa dengan Cinta. Dian Sastro mengajak Dzoel untuk bekerja sama di bidang fotografi.

“Saat baca DM-nya (direct messenger) saya pikir aah akun iseng terus pas saya stakling ternyata bener akunnya Mbak Dian Sastro. Saya langsung balas tapi lama nggak dibalas lagi sampai kemudian ada pihak mbak Dian yang menghubungi saya ngajak ketemuan,” ceritanya.

Ternyata pertemuan bukan hanya dengan timnya, tetapi juga langsung dengan Dian Sastro untuk berbicara langsung bentuk kerja samanya.

“Saya nderedeg. Mbak Dian cantik lebih cantik dari di televisi, selain itu juga baik,” kata Dzoel.

Saat ditanya kerja samanya dalam bentuk apa, Dzoel menolak menceritakan secara detail. Dia hanya mengatakan tidak jauh dari bidang fotografi.

Dzoel mengaku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan belajar yang ia dapatkan. Seperti arahan dari Darwis Triadi, dia ingin fokus memotret model, namun tidak menutup kemungkinan belajar memotret objek lain.

“Saya punya cita-cita pameran foto tunggal dan juga membuat buku. Saya ingin menunjukkan jika dalam keadaan seperti ini, kita masih bisa berkarya. Saya tidak mau dipandang sebelah mata,” tegasnya.

Dzul mengaku akan tinggal di Jakarta selama tiga bulan. Setelah itu dia akan kembali ke Banyuwangi. Namun jika memungkinkan dia ingin mengembangkan karir di ibu kota.

“Sekarang kan sudah ada pesawat langsung Banyuwangi-Jakarta. Jadi sesekali bisa pulang,” katanya.

loading...
Share this :